Itinerarium Mentis in Vitum..

F.A.R.T.

January 16, 2010 · 3 Comments

Well, ladies and gentlemen, everybody hates loves fart, at least his/her own fart..
People loves the physiological effect on the “moment of releasing”..
And it’s happening every day.. :D
And just a few hours ago, I’ve got a broadcasted BB-Message just about “Poetry of Fart”..

-KENTUT-


Dia tak b’wujud tak b’nyawa..
Tapi baunya terasa..

Dia tak b’bahaya tapi dijauhi,
dia ramah tapi tak didekati..

Kalo bunyinya keras artinya jujur, tak bersuara artinya malu”.

Keluar skaligus artinya b’jiwa besar, stengah” artinya hemat..

Kentut..


Org inggris kentut blng: “excuse me.”

Org amrik blngnya: “pardon me.”

Org indonesia: “not me, not me..!”

Kentut itu seru !

Asiknya dikumpulin, ditahan,
Lalu ledakkan keras”
ditengah” kelas!
Agar teman pd ketawa
ato jadi gila..

Kentut,


seperti persahabatan
hangatnya terasa..

begitu tercium semua org tahu..
slalu menemani hidup kita..

Kentut,


ga kentut ga sehat..

bnyk kentut orngnya dahsyat..

Kentut..


hati”lah melepaskannya..

Bertubi-tubi tandanya abis mkn ubi..

Berair tandanya mencret.

Kentut,


klo ga ada Loe ga rame!
Ada Loe keramean..

Disegani, dikuciLkan, tapi ngangenin..

dedicated to @deelestari - King of the Club -

and @carlotamba, whose fart impolitelly released a written version of fart http://twitter.com/carlotamba/status/7790205348

Bookmark and Share

→ 3 CommentsCategories: Current Affairs · Prologue..
Tagged: ,

“Wo Xiang Tou Tou Wang ya Wang Yi Wang Ta”

January 6, 2010 · No Comments

A weird title meh..??

Haha, don’t be confused, that was from the first sentence of “Xin Lian”’s lyric, a Chinese song that has the same tune and rhyme with “Indonesia Pusaka”..

This article firstly published in “Kolom Tionghoa”, Samarinda Pos, May 31st..

And I repost it here, for @VeHandojo and @thomasluvas..

Antara Ismail Marzuki dan Zhou Xuan

Penemuan yang Berawal dari Ketidaksengajaan — sub

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

SEBAGAI warga negara Indonesia yang setidaknya pernah belajar menyanyikan dan menghapal beberapa judul lagu nasional, lagu berjudul “Indonesia Pusaka” pasti tidak asing bagi kita. Lagu yang benar-benar menunjukkan kecintaan pada tanah air Indonesia sedari lahir hingga akhir hayat ini ditampilkan dengan aransemen yang luar biasa menghanyutkan dan membangkitkan kebanggaan kita sebagai rakyat Indonesia.
Lagu indah dengan lirik yang mampu menyemangati perjuangan menuju kemerdekaan ini diciptakan oleh Ismail Marzuki, seniman musik Indonesia yang lahir pada 11 Mei 1914. Perjuangannya lewat musik bermula sekitar tahun 1930-an hingga akhirnya Ismail Marzuki tutup usia pada 25 Mei 1958 dengan total 250 lagu yang berhasil diciptakannya.

Bila anda membaca judul tulisan ini, Anda pasti akan bertanya siapa Zhou Xuan? Apa hubungannya dengan Ismail Marzuki?
Pertanyaan ini juga yang sempat membuat saya kelewat tekun membongkar-bongkar situs internet berbahasa Tionghoa (yang bikin bingung ketika dibaca), khususnya yang memuat tentang sejarah para biduan Tionghoa zaman dulu. Pasalnya, tepat sebulan yang lalu, tanpa sengaja saya mendengarkan sebuah lagu berbahasa Tionghoa berjudul “Xin Lian” dengan arti “Kekasih Hati” yang memiliki aransemen seratus persen sama dengan lagu Indonesia Pusaka milik Ismail Marzuki. Uniknya, lagu tersebut merupakan versi “remake”, atau lagu yang diaransemen ulang dengan gaya yang lebih masa kini.
Selidik punya selidik, jika lagu berbahasa Tionghoa itu tampil dengan gaya musik yang agak moderen, mungkin saya bisa mafhum (sekaligus malu), bahwa ternyata lagu aransemen Indonesia Pusaka disadur (atau dijiplak) oleh entah komponis Tiongkok mana. Sehingga menghasilkan lagu “Xin Lian” tersebut.
Namun anehnya, setelah saya menelusuri (baca: searching) lebih jauh, lagu yang saya dengar tidak kalah jadul dan kuno dalam hal irama dan performa orkestra. Ya bisa diibaratkan seperti mendengar lagu zaman dulu yang diputar lewat piringan hitam.
Makin haus akan keingintahuan, saya pun mulai mencari segala informasi yang berkaitan dengan lagu berbahasa Tionghoa ini. Saya awali dengan mengetikkan aksara “Xin Lian” pada mesin pencari Google versi Tionghoa. Pencarian ini mengantarkan saya pada sosok Zhou Xuan, biduan sekaligus aktris yang sempat tenar namanya di Shanghai pada masa mafia. Dia yang pertama kali mempopulerkan lagu “Xin Lian” ini
Zhou Xuan terlahir dengan nama Su Pu pada 1 Agustus 1918 yang terpisah dari orangtua kandungnya saat kecil dan dibesarkan oleh orangtua angkat. Sepanjang hidupnya, Zhou Xuan mencari orangtuanya, namun pencarian ini gagal hingga akhirnya dia meninggal pada 22 September 1957 sebagai penderita penyakit syaraf.
Di usia 13 tahun, Su Pu memilih Zhou Xuan sebagai nama panggungnya. Dia mulai tenar setelah memenangkan kompetisi menyanyi di Shanghai pada tahun 1935. Saking luar biasanya penampilan Zhou Xuan, hingga dirinya menjadi legenda musik Tionghoa sejak tahun 1937. Lagunya terus menerus dinyanyikan, hingga 2009 termasuk lagu “Xin Lian” atau yang bisa kita sebut lagu “Indonesia Pusaka Versi Tionghoa” ini. Bedanya, Indonesia Pusaka merupakan lagu tentang kebangsaan, sedangkan “Xin Lian” sepenuhnya merupakan lagu bertema cinta dengan genre Mandarin Pop. Mengisahkan tentang seorang gadis yang diam-diam menaruh hati pada seorang pria.
Kini permasalahan, siapakah yang pertama kali mengumandangkan aransemen lagu tersebut? Apakah Ismail Marzuki benar-benar sebagai komponisnya dan lalu dinyanyikan oleh Zhou Xuan? Ataukah sebaliknya?
Bila merujuk pada data sejarah kasar, Ismail Marzuki lahir empat tahun lebih dulu dari Zhou Xuan dan memulai karirnya pada tahun 1930-an. Sedangkan Zhou Xuan mulai tenar sejak tahun 1935, namun sudah memulai pekerjaannya sebagai penyanyi amatir pada tahun 1930-an pula, ketika dia berusia 13 tahun. Atau mungkin ini ada hubungannya dengan arus imigran asal Tiongkok ke Indonesia yang marak berlangsung pada era tahun 1920 dan 1930-an? Saya (masih) tidak tahu.
Tulisan ini saya buat semata-mata untuk menjadi tambahan pengetahuan dan tidak bertujuan untuk mengajak anda mendukung salah satu di antara Ismail Marzuki maupun Zhou Xuan. Yang jelas, bila anda penasaran ingin mendengar seperti apakah lagu Zhou Xuan “Xin Lian” tersebut lewat internet, silakan klik

http://dragono.multiply.com/music/item/16/16

.
Andaikan anda tertarik akan hal ini, silakan email saya di “dragon@sapos.co.id”. (dragono halim)
Zhou XuanIsmail Marzuki
p.s. “I think I silently fall in love with him” (the title’s translation)

The singer in this YouTube video is not Zhou Xuan, but Cui Ping, a later figure than Zhou Xuan..

Bookmark and Share

→ No CommentsCategories: Current Affairs · Music
Tagged: , , , ,

Letter from the Future

January 6, 2010 · No Comments

I’ve just read a nice analogy upon man’s condition on the next decades..

And here it is..

Kepada Yth Manusia Di Tahun 2010,

Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun. Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih. Aku pikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku.

Aku teringat di saat aku berumur 5 tahun, semua sangat berbeda. Masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya.

Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang dibasahi dengan minyak mineral. Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air. Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng.

Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja. Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan: “JANGAN MEMBUANG-BUANG AIR!” Tapi tak seorang pun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas.

Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering. Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu.

Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya. Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis.

Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari. Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah. Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air.

Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfer bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun. Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air.

Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang.

Morphology manusia mengalami perubahan… Yang menghasilkan dan melahirkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi. Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 perorang perhari. [31.102 galon] Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen. Udara yang tersedia di dalam “kawasan ventilasi” tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas.Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun. Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata.

Di sini di tempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam.Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi.

Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli. Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau.

Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu. Dia bertanya: Ayah! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ? Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku.

… Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian… dan banyak orang lain juga! Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa mengubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan.

Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya, Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir. Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi… Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini! Tolong Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang. Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita. Lakukan untuk anak dan keturunan mu kelak”

Sekarang…
Ini adalah pilihanmu…
Untuk menjaga planet kita yang indah ini

atau

menjadi egois dan tidak menghiraukan kebutuhan generasi masa depan kita..

Tertanda,

Bookmark and Share

→ No CommentsCategories: Current Affairs
Tagged: , , ,

HNY..!! *horn blowing*

January 2, 2010 · No Comments

Sorry for that imbicille title for this post..

And actually, I just want to shout:

“Happy New Year!!”

to all of You

And just like what I’ve broadcasted with my BBM, my wish are:

“Be wealthy, healthy and happy!!”

and I think everybody want those 3..

Anyway, I speak Indonesian (and write in English, with my super-worst capability as a writer tough), and it’s quite fun to learn, or at least, know about other languages.. Therefore, I want to share a website where You can find so many languages and their writing.. Including for You who want to know how to greet a “Happy New Year” in more than 150 languages.. :)

Omniglot (means, lotsa languages)

New Year's Fireworks @ Samarinda

Bookmark and Share

→ No CommentsCategories: Current Affairs
Tagged: , , ,

Flirty Word Award 2009 ~ Prikitiw

December 12, 2009 · No Comments

This post is containing the most flirtatious sentences, which are flirty and hilarious in the same time..

But sorry, it’s Indonesian..

“Gombal” of The Year (GOTY 2009)

1. Tadi Malam Aku Kirim Bidadari Untuk Menjaga Tidurmu. Eh, Dia Buru-Buru Balik. Katanya, ‘Ah, Masa Bidadari Disuruh Jaga Bidadari?’

2. Kalau Kamu Nanya Berapa Kali Kamu Datang Ke Pikiranku, JujurAja, Cuma Sekali. Abisnya, Ga Pergi2 Sih!

3. Sempet Bingung Jg, Kok Aku Bisa Senyum Sendiri. Baru Nyadar,Aku Lagi Mikirin Kamu.

4. Kalau Suatu Saat Kamu Hancurkan Hatiku… Akan Kucintai Kamu Dengan Kepingannya Yang Tersisa.

5. Berusaha Melupakanmu, Sama Sulitnya Dengan Mengingat Seseorang Yang Tak Pernah Kukenal.

6. Kalau Kamu Ajak Aku Melompat Bareng, Aku Ngga Bakalan Mau.Mending Aku Lari Ke Bawah, Bersiap Menangkapmu.

7. Aku Pernah Jatuhkan Setetes Air Mata Di Selat Sunda. Di HariAku Bisa Menemukannya Lagi, Itulah Waktunya Aku Berhenti Mencintaimu.

8. Ga Usah Janjiin Bintang Dan Bulan Untuk Aku, Cukup Janjiin Kamu Bakal Selalu Bersamaku Di Bawah Cahayanya.

9. Kalau Kamu Nanya Mana Yg Lebih Penting Buat Aku: Hidupku Atau Hidupmu, Aku Bakal Jawab Hidupku. Eits, Jangan Marah Dulu, Karena Kamulah Hidupku.

10. Pertama Ketemu, Aku Takut Ngomong Sama Kamu. Pertama Ngomong Sama Kamu, Aku Takut Kalau Nanti Suka Sama Kamu. Udah Suka, Aku Makin Takut Kalau Jatuh Cinta. Setelah Sekarang Cinta Sama Kamu, Aku Jadi Bener2 Takut Kehilangan Kamu. Kamu Emang Menakutkan!

11. Ketika Hidup Memberiku Seratus Alasan Untuk Menangis, Kau Datang Membawa Seribu Alasan Untuk Tersenyum.

12. Jika Aku Bisa Jadi Bagian Dari Dirimu, Aku Mau Jadi Airmatamu,Yang Tersimpan Di Hatimu, Lahir Dari Matamu, Hidup Di Pipimu, Dan Mati Di Bibirmu

13. Orang Bilang Bulan Itu Indah…Tapi Aku Bilang Tidak. Orang Bilang Planet Venus Itu Cantik…Tapi Menurut Aku Tidak. Aku Bilang Bumi Itu Indah Dan Cantik…Karena Ada Kamu….

Bookmark and Share

→ No CommentsCategories: Current Affairs
Tagged: ,

Wisdoms Around Us

December 5, 2009 · No Comments

As usual, on my browsing activity, perpetually I hit and check WDC to get the newest topics and comments. And this evening, I found some interesting posts about wisdom, universal love and compasion.

In this post, I just want to share those posts to all of You.

#1 Mother Duck Seeks the Police

^

^

As You can see on those pictures, mother duck was trying to find her kids which had fallen between the ditch-holes. By that, mother duck approached a cop (named Ray Peterson) to seek his help by acting weird.

The confused cop was need to be convinced by the mother duck, until he came to that ditch-hole and finally found what that mother duck was asking for.

Not only smart enough to seek people’s help, that mother duck was not afraid to come over a human. That was all for her kids.

Ketika Induk bebek menyadari anak2nya terjatuh di bawah jeruji selokan, sang Induk kebingungan dan pada saat itu ada seorang Polisi (Ray Peterson) berada di sekitar. Dengan cepat sang Induk bebek segera menghampiri Peterson, Ia terus bertingkah di depannya dan menarik kaki Peterson.
Peterson pun merasa tidak yakin bahwa sang Induk membutuhkan pertolongan dan Ia pikir hal ini adalah konyol. Tetapi sang Induk tidak menyerah, ia terus menarik kaki Peterson dan kemudian berlari ke tempat jatuh anak2nya. Peterson pun mulai curiga, dan akhirnya ia kesana untuk melihat.
“Awalnya saya pikir, hal ini adalah konyol” Kata Peterson kepada Sun Newspaper.
Ia menemukan delapan bebek-bebek kecil di bawah sana. Dan dengan bantuan beberapa warga dan truk, akhirnya jeruji itu ditarik keluar dan sang Induk pun dapat lega bertemu kembali dengan anak2nya. Kemudian warga melepaskan keluarga bebek tersebut ke sungai dekat tempat kejadian.
“Aku tidak pernah menyadari, Jika Bebek lebih pintar dari yang aku kira” tanggapan Peterson kepada wartawan.
“Sebelumnya aku tidak pernah makan bebek, dan aku tidak pernah mau bermimpi untuk memakan mereka”. kata terakhir Peterson kepada wartawan.

(http://www.wihara.com/forum/entertainment/5349-ibu-bebek-minta-pertolongan-polisi-menyelamatkan-anak-anak-nya.html)

^

^

#2 Mother Monkey Fight a Wild Dog

I think You’re human enough to comprehend those pictures.

http://www.wihara.com/forum/entertainment/5342-induk-monyet-menyelamatkan-anaknya.html

Bookmark and Share

→ No CommentsCategories: Current Affairs · Prologue..
Tagged: , ,

3 Cans of Coke

November 25, 2009 · No Comments

There were 3 cans of Coke, produced in the same factory.
Until 1 day, they must be distributed separately.

1st stop was on a local supermarket.
And so the 1st can, dropped there and put on a bar display.
That can and the other cans which came earlier were sold Rp4.000.

2nd stop was on a hypermarket.
And so the 2nd can, put in a huge refrigerator to make it cool and could be bought by Rp7.500.

The last stop was on a 5-stars hotel.
And there was the place for the 3rd can.
It wasn’t put in bar display nor refrigerator.
Coke in that 3rd can only available solely with special order, which accompanied by a beautiful crystal glass and some perfect-shaped ice cubes.
When somebody order it, that 3rd can will be placed on a silver platter and served flawlessly by a polite servant.
It costed Rp60.000.

Now, the question is “why those cans, that produced from same factory, with same taste dan distributed by same truck could have different prices?”
It was because the differences between 3 environments.

Your environment speaks about Your “price”.

If Your environment can show the best of You, You’ll be one of the brightest star ever. But if You prefer to stay in a place that can make You do shallow things and feel okay about it, voila, You’re just as shallow as what You’re thinking about Your life.


Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama.
Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik,
mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal.
Kaleng coca cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama
dengan kaleng coca cola lainnya dan diberi harga Rp4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar.
Di sana, kaleng kedua diturunkan.
Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah.
Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana.
Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas.
Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan.
Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan besama dengan gelas kristal berisi batu es.
Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan.
Harganya Rp60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah:

Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama.

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.

Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang.Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil-kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.

(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA.

taken from: http://www.wihara.com/forum/topik-umum/5208-coca-cola.html

Bookmark and Share

→ No CommentsCategories: Prologue..

God of 3,6 Inches

November 22, 2009 · No Comments

From: thefortuno.com

From: thefortuno.com

(Indonesian)

“Tuhan 9 cm”

Oleh : Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita

Bookmark and Share

→ No CommentsCategories: Uncategorized
Tagged: ,

#FirstWeekOnTwitter

November 11, 2009 · 1 Comment

Wordle: FirstWeekOnTwitter

those very words, appeared on my Tweet..
and I couldn’t realize that I’ve posted so much things there..
LoL

anyway..
I luv the way wordle showing those words artistically.. :) keep Tweeting..

Bookmark and Share

→ 1 CommentCategories: Current Affairs
Tagged: , , , ,

Bachelor of Social Science

October 21, 2009 · 2 Comments

yeah, that’s me..
who was officially announced as a Bachelor of Social Science..
it’s mean that I don’t have to go to school anymore, and i can pay more focusses on my life..

anyway, the final test was held just like a seminar..
Oct 20th, my presentation began on 9.11 am..
and just like any usual times before, i was talking about my research; it’s backgrounds, objectives, methods, how was the process, the datas, and other bla bla bla bla bla bla..

tons (quite much, huh) of questions were delivered and (thankfully) i could handle them as smooth as whipped cream, haha..

not only catched by my way of presentation and the way i handled the questions, the jury (counselor and examiners) also impressed with the dishes, snacks and souveniers i provided.. that was the side effect, i suppose..

and the result was an A grade of Bachelor of Social Science.. ^^
hurraaaaay..

Bookmark and Share

→ 2 CommentsCategories: Current Affairs
Tagged: ,