each life of us is a journey.. so, continue your journey, and let me do the same with mine.. :) dominus vobiscum ad itinerarium mentis in vitum.. (but there’s no such dominus)..
Allow me to post this.. ![]()
It’s my 2nd article upon “Hokcia” or “Fuqing” stuff..
Catatan dari Pertemuan Hokcia se-Indonesia ke VI — sub
Sudah Tidak Banyak yang Paham “Hokcia Hua”
SAMARINDA. Merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya, untuk bisa menghadiri acara tahunan pertemuan suku Hokcia (Mandarin: Fuqing) se-Indonesia tahun 2008 yang diselenggarakan di Solo. Karena dalam rangkaian acara yang berlangsung selama 13 sampai 14 Desember ini, ternyata ada banyak yang hal yang cukup pantas untuk diprihatinkan mengenai kelestarian budaya Tionghoa dan Hokcia di Indonesia.
Jangankan urusan budaya Hokcia untuk acara kelahiran, pernikahan, ulang tahun ataupun kematian, bahkan tidak banyak warga Hokcia di Indonesia yang sudah tidak paham akan bahasa kampung halamannya sendiri. Dalam pertemuan yang diikuti oleh sekitar 700-an orang dari 23 kota di Indonesia, mungkin hanya ada kurang dari 70-an orang yang masih bisa paham berbahasa “Hokcia Hua”. Itu pun mereka rata-rata sudah berusia di atas 55 tahun. Kalah jauh dibandingkan orang Tionghoa suku Hokkien (Mandarin: Fujian) di Medan, atau orang Theochiuw (Mandarin: Zhaozhou) di Pontianak yang masih bisa fasih berbicara bahasa ibunya sejak kecil.
Walaupun masih ada banyak orang yang bisa mendengar (sekadar mendengar) dan memahami bahasa Hokcia, namun jumlahnya tidak sebanyak orang yang sama sekali tidak paham akan bahasa suku Tionghoa di Tiongkok Tenggara ini.
Secara sekilas, bahasa Tionghoa dialek Hokcia ini mirip seperti campuran antara bahasa Vietnam dan bahasa Tionghoa dialek Hokkien baik dari kosakata maupun dari pelafalannya. Karena ketika kita dengar, tutur bahasa Hokcia banyak menggunakan suara hidung. Sehingga kalau kita salah sangka, kita bisa menganggap kalau orang yang sedang berbicara dalam bahasa Hokcia adalah seseorang yang sedang terserang pilek dan hidung tersumbat. Padahal memang seperti itu gaya bahasanya.
Salah satu contohnya, bila dalam dialek Mandarin kita mengucapkan “Wo shi Fuqing ren” (dibaca: wo she fu ching ren), maka kalimat tersebut akan menjadi “Ngua si hucia neung”. Kalimat sederhana dalam bahasa Hokcia ini sendiri pun saya dapatkan tahun lalu, ketika tanpa sengaja bertemu dan berbincang secara virtual dengan orang Samarinda lainnya yang masih sempat diajari bahasa Hokcia oleh engkongnya (kakek).
Untungnya ada kegiatan tahunan seperti temu komunikasi yang digelar sejak tahun 2002 lalu. Karena lewat forum ini, para tetua suku Hokcia di kotanya masing-masing berusaha untuk menemukan sebuah cara yang terbaik, untuk dapat kembali lagi mempopulerkan bahasa Hokcia ke kalangan anak muda yang ada saat ini.
Usut punya usut, ternyata apa yang menyebabkan putusnya garis komunikasi antara generasi pertama Hokcia (yang datang merantau ke Indonesia langsung dari Tiongkok) kepada generasi kedua (anak-anaknya) yang kemudian berlanjut kepada generasi ketiga (cucu-cucunya) adalah kemalasan untuk mengajari, dan tekanan dari lingkungan.
Mengapa orang Hokcia cenderung malas untuk mengajari anak-anaknya bahasa Hokcia? Itu disebabkan karena mereka rata-rata terlalu sibuk mengurusi bisnisnya. Sehingga waktu yang dimiliki di rumah untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya tidak cukup banyak untuk digunakan berlatih “bahasa hidung” ini. Walaupun pada kenyataannya kesibukan berbisnis ini juga yang menjadikan sejumlah tokoh Hokcia Indonesia mampu mencuat menjadi figur sukses, seperti Liem Sioe Liong (bos BCA grup), ataupun Alim Markus (bos Maspion grup), begitupun dengan sejumlah figur Hokcia di Samarinda.
Karena komunikasi dalam bahasa Hokcia bisa dikatakan tidak mungkin terjadi antara bapak dan anak-anaknya, maka para generasi muda yang masih bisa diasuh oleh kakek neneknya pun masih beruntung. Karena dari kakek dan neneknya inilah, mereka bisa “dihajar” dengan bahasa Hokcia sedari dini, sehingga paling banter mereka yang kini sudah berusia 30 tahun ke atas, masih bisa berbangga diri karena masih mampu berbicara dalam bahasa Hokcia tersebut.
Selebihnya, apa yang menjadikan bahasa Hokcia sangat tidak populer di kalangan anak muda adalah tekanan yang diberikan oleh pemerintah Orde Baru (Orba) yang sangat membatasi segala sesuatu yang berbau ke-Tionghoaan. Jangankan berbahasa Hokcia, berbahasa Mandarin saja dilarang.
Dengan semangat untuk menjaga nilai budaya Hokcia, maka hampir semua kota yang hadir setuju untuk mencoba mengajarkan kosakata bahasa Hokcia sedikit demi sedikit. Apakah itu lewat penamaan sejumlah barang dan makanan, maupun untuk kata kerja sederhana seperti “sarapan”, “makan siang”, “makan malam”, “pergi” dan sebagainya.
Dan begitupun yang akan dijalankan di Samarinda, oleh sekitar 30 pengurus “Yayasan Karya Insani” yang merupakan paguyuban warga Hokcia.
Pada dasarnya, kondisi ini juga yang dialami oleh suku-suku Tionghoa lainnya yang ada di Samarinda dan sejumlah kota di Indonesia. Pasalnya, karena kalangan generasi ketiga sudah disibukkan dengan sekolah, les, pekerjaan, teknologi dan pergaulan serta ditambah dengan kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan, secara perlahan nilai-nilai budaya asli sudah banyak yang terlupakan. Orang sudah banyak yang tidak lagi menikah dengan menggunakan tata cara tradisional; orang sudah tidak lagi yang paham apa itu makna mi “Misua” yang disajikan setiap ulang tahun; orang sudah tidak banyak lagi yang mengerti tentang bahasa sukunya sendiri. Maka mulai sekarang, ada baiknya bagi para tetua yang paham akan beberapa nilai-nilai budaya leluhur, mencoba untuk lebih dermawan dengan membagikannya kepada para anak cucu. Agar semangat yang sudah dibawa dari Tiongkok oleh para leluhur perantau dengan begitu susah payah, tidak terlupakan begitu saja. (dragono halim)
Sorry, it’s Indonesian.. ![]()
At Dec 12th-15th i was attending the annual Fuqing gathering..
Where all Fuqing peoples in Indonesia meet, and discus something about how to maintain communication and preserve the ancient’s heritage upon culture..
I’ve wrote an article upon it, and voila..
Dari Pertemuan Hokcia se-Indonesia di Solo — sub
Kunjungi Pabrik Seragam Militer 17 Negara, Disuguhi Makanan Kampung Halaman
SEJAK 2002, warga Tionghoa Indonesia sudah mulai mendapatkan kesamaan hak dengan warga Indonesia lainnya. Dan sejak tahun itu juga, selalu diadakan “Pertemuan Tahunan Perhimpunan Suku Hokcia se-Indonesia” dengan tujuan untuk mempertahankan semangat orang rantau dan sekaligus menjaga komunikasi se-Indonesia.
DARI berbagai suku Tionghoa yang ada di Indonesia, Hokcia (mandarin: Fuqing/福清) merupakan salah satu suku yang mulai merantau ke seluruh dunia sejak beberapa abad yang lalu dari Tiongkok tenggara. Dimana tercatat ada lebih dari 1.500 warga Tionghoa suku Hokcia di Samarinda, yang dihimpun dalam paguyuban bernama “Yayasan Karya Insani” (Fu-Xing Tongxianghui/三馬林達福興同鄉會). Sebagai satu di antara 25 paguyuban warga Hokcia di seluruh Indonesia.
Dengan semangat “Cia Neung” (mandarin: Jia Ren/家人) yang menganggap bahwa semua warga Hokcia adalah satu keluarga, dalam temu komunikasi tahun ini yang berlangsung di Solo, lebih dari 700 peserta se-Indonesia saling bertemu, berkenalan dan saling mengakrabkan diri satu sama lain. Sayangnya, acara-acara seperti ini baru bisa dinikmati oleh para generasi pertama dan kedua.
Warga Hokcia di Indonesia sendiri pada dasarnya sudah memiliki tiga generasi. Generasi pertama, adalah warga Hokcia asli Tiongkok yang merantau. Generasi kedua adalah anak dari generasi pertama. Sedangkan generasi ketiga adalah anak dari generasi kedua.
Salah satu contoh dari kesenjangan budaya ini adalah banyaknya generasi dua dan tiga Hokcia yang bahkan tidak paham dan asing dengan bahasa sukunya sendiri. Sehingga dalam pertemuan ini juga banyak dibahas beragam upaya untuk dapat mengejar kesenjangan tersebut.
Dalam acara yang digelar selama 13 – 14 Desember, agenda pertama adalah kunjungan ke perusahaan tekstil Sritex di Kabupaten Sukoharjo. Kunjungan ke kompleks pabrik tekstil seluas 100 hektar dengan 13.500 pegawai ini sekali lagi menunjukkan kepada para warga Hokcia se-Indonesia bahwa selain Liem Sioe Liong (BCA Group), Alim Markus (Maspion Group), Robby Sumampow dan sejumlah pengusaha terkenal lainnya di Indonesia, warga Solo memiliki HM Lukminto dengan Sritex-nya yang menjadi pemasok kebutuhan tekstil untuk militer bagi 17 negara termasuk Indonesia. HM Lukminto yang kini sudah menyerahkan kursi pimpinan PT Sri Redjeki Isman kepada putranya, juga sekaligus menjadi salah satu pimpinan kehormatan dalam organisasi “Himpunan Fuqing Solo”.
Di aula penjamuan, para tamu disuguhi dengan tampilan ratusan manekin dengan seragam militer, seragam dinas, seragam Polisi ala Indonesia, dan dari 16 negara lainnya termasuk Jerman, Inggris, Uni Emirat Arab, dan sebagainya.
Salah satu keunikan dari kunjungan ini, para undangan disuguhi dengan sejumlah makanan khas Hokcia yang belakangan ini susah ditemui karena jarang ada yang membuatnya. Beberapa makanan tersebut seperti “Tia Biang” serupa Ote-ote namun dengan isi rumput laut dan udang, “Ko Mao” berbentuk mirip kroket kentang namun dengan isi campuran antara kacang tanah dengan gula merah, lalu ada juga “Khiau Wei” berupa kue mangkuk namun terbuat dari umbi-umbian.
“Sedikit banyaknya, zaman sekarang susah cari makanan seperti ini. Sehingga dalam momen ini wajar kalau ditampilkan sebagian bentuk budaya asli Hokcia yang sudah mulai terlupakan,” tutur Shi Minwen, pimpinan rombongan Fuqing Samarinda.
Rangkaian acara pada hari itu diakhiri dengan jamuan makan malam dan malam kesenian. Dimana delegasi dari masing-masing daerah menyumbangkan tarian ataupun nyanyian untuk ditampilkan di panggung Diamond Solo Convention Centre, namun sayangnya delegasi Samarinda hanya menjadi penonton pada tahun ini. (lee)


In that occasion, i was representing Fuqing youth from Samarinda..
And just like the other delegation, i have my speech about several points (and i do believe that you’re not interested in) that occur in my town..
This occasion meant a lot for me, because that was my first time attending such gathering, which i found quite interesting..
Unfortunately, my mission was unaccomplished..
I want to make friend as much as possible, but i just met and easily communicated with less than 25 peoples..
But since it was my first time to Solo, it was great..